Di samping memiliki semangat belajar yang tinggi, Imam Nawawi juga punya semangat menulis yang tak kalah besar. Beliau banyak mengabdikan masa hidupnya dengan menulis. Meski begitu, tidak semua karangan beliau yang tuntas hingga menjadi satu kitab utuh. Untuk itu, Penulis membaginya menjadi tiga bagian.
Kitab yang Ditulis Tuntas dan Tersebar
Pertama, kitab Riyadl Ash-Shalihin yang menjadi maha karya Imam Nawawi. Kitab ini banyak dikaji di pesantren dan sering menjadi kitab yang dikaji secara pasanan atau dimaknai secara tuntas. Berisi kumpulan hadis yang digolongkan dalam sembilan belas bab, Imam Nawawi mengungkapkan dalam mukadimahnya, “Saya berharap, jika kitab ini selesai, dapat menuntun pembaca untuk beramal saleh serta dapat menghindarkan dari segala keburukan dan segala hal yang merusak.”
Kedua, kitab Al-Arba’in An-Nawawi. Kitab hadis pilihan ini mungkin yang paling masyhur di antar kitab kumpulan hadis semisal. Imam Nawawi memilih empat puluhan hadis yang berisi landasan dalam beragama Islam.
Ketiga, kitab Al-Minhaj Syarh Shahih Muslim. Kitab ini adalah syarah untuk kitab hadis yang paling sahih setelah kitab Shahih Al-Bukhari. Di antara sekian banyak syarah Shahih Muslim, syarah An-Nawawi inilah yang paling populer dan paling banyak manfaatnya. Dari sini, kita dapat mengetahui kalau pengarangnya adalah seorang pakar hadis.
Keempat, kitab Minhaj Ath-Thalibin wa ‘Umdah Al-Muftin. Selain seorang pakar hadis, Imam Nawawi juga dikenal sebagai mujtahid ulung. Kitab ini lah karya dalam bidang fikih yang banyak dikaji di pesantren-pesantren, yang merupakan rangkuman dari kitab Al-Muharrar karya Imam Ar-Rafi’i.
Kelima, kitab Raudlah Ath-Thalibin . Sama seperti Minhaj Ath-Thalibin, kitab ini adalah kitab dalam bidang fikih yang merupakan rangkuman dari kitab Fath Al-‘Aziz karya Imam Ar-Rafi’i.
Keenam, kitab Al-Idlah fi Al-Manasik. Untuk kitab satu ini, Imam Nawawi fokus dalam satu pembahasan tentang haji dan umrah.
Ketujuh, kitab Al-Adzkar An-Nawawi. Sesuai dengan namanya, kitab ini berisi kumpulan doa dan wirid yang dilengkapi dengan dasar Al-Qur’an, hadis dan pendapat para ulama. Selain itu, kitab ini juga punya keterkaitan dengan beberapa bab dalam fikih.
Kitab yang Ditulis Tuntas dan Tidak Disebar
Sebenarnya ada beberapa kitab yang urung disebar oleh Imam Nawawi. Motivasinya hanya Allah dan beliau yang tahu. Bisa jadi karena Imam Nawawi meragukan niat dalam mengarang, ketidakvalidan isi atau alasan lain. Dan tentunya, karena tidak disebar, nama kitab ini masih misterius begitu juga dalam bidang apa.
Murid beliau Ibnu Al-Aththar, dalam kitab Tuhfah Ath-Thalibin, menceritakan pernah disuruh Imam Nawawi untuk menghapus tulisan-tulisan beliau dalam beberapa lembar kertas. Beliau menakut-takuti muridnya itu agar tidak mengintip isi kitab itu sedikit pun. Karena patuh, Ibnu Aththar pun tidak melihatnya karena alasan taat. Namun, di akhir cerita Ibnu Aththar mengungkapkan, “Sampai sekarang (hal itu) membuat hatiku menyesal (karena tidak melihat tulisan indah sang guru).”
Kitab yang Tidak Ditulis Tuntas
Pertama, kitab Al-Majmu’ syarh Al-Muhadzdzab. Kitab ini adalah versi kitab yang panjang karena menjelaskan begitu rinci tiap bab dalam fikih. Bahkan, kitab ini juga digadang-gadang menjadi kitab pendahulu Fikih Muqaran karena memuat berbagai pendapat ulama. Sayangnya, sebelum beliau menuntaskannya beliau wafat dan menulis sampai bab riba. Untungnya, rancangan ide kitab itu dilanjutkan oleh Imam Taqiyuddin As-Subki dan Al-Muthi’i.
Kedua, kitab At-Tahqiq. Motivasi Imam Nawawi membuat kitab ini untuk menuliskan pendapat yang paling benar menurut beliau dalam masalah fikih. Karena itu, dalam tingkatan kerajihan kitab-kitab Imam Nawawi, Kitab At-Tahqiq menduduki posisi pertama disusul kitab-kitab fikih lain. Sayangnya, kitab ini ditulis hanya sampai bab salat musafir.
Ketiga, kitab At-Tanqih. Kitab ini adalah syarah dari kitab Al-Wasith karya Imam Al-Ghazali. Namun, penulisannya hanya sampai bab syarat-syarat salat.
Keempat, kitab Daqaiq Al-Minhaj. Tujuan Imam Nawawi mengarang kitab ini untuk menunjukkan beberapa keunggulan kitab beliau Minhaj Ath-Thalibin dibanding kitab yang diarngkumnya, Al-Muharrar. Penulisannya hanya sampai bab Al-Jirah.
Sebenarnya masih banyak kitab-kitab beliau baik yang tuntas maupun belum. Namun, karena belum tersebar cetakannya atau malah masih berupa manuskrip, Penulis belum bisa melacaknya.
Muhammad Miqdadul Anam
Mahasantri Ma’had Aly An-Nur II
- Al-Imam Muhyiddin Abi Zakariya Yahya An-Nawawi (Bagian Tiga) - Januari 11, 2024
- Teladan Imam Syafi’i dalam Mendidik - Oktober 2, 2023
- Mengenal Imam Syafi’i Sebagai Ahli Bahasa - Agustus 20, 2023
