Sabtu, Mei 18
Shadow

Teladan Imam Syafi’i dalam Mendidik

Terpikir atau tidak, mazhab Syafi’i masih eksis hingga sekarang tidak lepas dari cara Imam Syafi’i dalam menyebarkan mazhabnya lewat majelis ilmu. Bagaimana interaksi beliau dengan muridnya yang membuat mereka begitu mengagumi beliau dan mau berkhidmah untuk melanjutkan perjuangan beliau dalam merintis mazhab.

                Untuk mempermudah ilustrasi bagaiman cara beliau dalam mendidik, berikut salah kisah beliau dalam mendidik muridnya.

Imam Syafi’i dan Ar-Rabi’

                Dalam kitab biografi para Imam Mazhab Syafi’iyyah, disebutkan kisah Imam Syafi’i menghadapi murid yang lamban dalam memahami pelajaran. Murid itu bernama Ar-Rabi’ bin Sulaiman.

                Satu ketika, Imam Syafi’i bertanya di dalam kelas mengenai materi yang telah beliau terangkan. “Rabi’, apakah kamu sudah paham atau belum?” tanya beliau.

                “Belum paham, wahai guru,” jawab Ar-Rabi’.

                Dengan telaten, Imam Syafi’i mengulang materi pembelajarannya lalu kembali bertanya pada Ar-Rabi’, “Sudah paham atau belum?”

                Kembali, Ar-Rabi’ menjawab, “Belum.” Imam Syafi’i pun kembali mengulangi materinya. Bahkan, dalam kitab tersebut beliau mengulanginya sampai 39 kali. Namun, Ar-Rabi’ belum juga paham.

                Merasa mengecewakan gurunya dan malu, Ar-Rabi’ pun pelan-pelan keluar dari kelas beliau. Jangan bayangkan kelas di sini seperti kelas di sekolah-sekolah pada umumnya. Kelas Imam Syafi’i hanya berupa halakah atau sebatas perkumpulan majelis ilmu.

                Kemudian, seusai memberi pelajaran, Imam Syafi’i menemui muridnya itu dan berkata, “Rabi’ kemarilah, datalang ke rumahku.”

                Sebagai seorang guru, Imam Syafi’i begitu paham mengenai mental health seorang murid. Beliau mengundang Ar-Rabi’ untuk belajar secara privat di rumah beliau. Seperti sebelumnya, setelah diterangkan, beliau kembali bertanya, “Sudah paham?”

                Ternyata Ar-Rabi’ masih belum paham juga. Lantas, Imam Syafi’i apa berputus asa, kemudian menlabeli Ar-Rabi’ sebagai murid tolol? Tidak! Sekali lagi, Tidak!

                Saat itu, Imam Syafi’i berpesan, “Muridku, hanya sebatas ini kemampuanku mengajarimu. Jika kau masih belum paham, maka berdoalah pada Allah SWT agar berkenan mengucurkan ilmu-Nya untukmu. Saya hanya menyampaikan ilmu, sementara Allah lah yang memberikan ilmu. Andai ilmu ini sesendok makanan, niscaya akan kusuapkan padamu.”

                Berkat kesungguhan dan keikhlasan Imam Syafi’i dalam mendidik muridnya, Ar-Rabi’ pun tumbuh menjadi ulama besar dalam mazhab Syafi’i. Bahkan, dari Ar-Rabi’ lah kisah-kisah Imam Syafi’i dapat terdokumentasi. Ini terlihat dari banyaknya riwayat Ar-Rabi’ dalam kitab Manaqib Asy-Syafi’i yang berasal darinya. Ini menunjukkan begitu banyak interaksi Ar-Rabi’ dengan gurunya tersebut.

                Dari pesan Imam Syafi’i tersebut kita dapat mengambil hikmah tentang bagaimana arti sebuah ikhtiar yang disusul dengan tawakkal.

Referensi:

Al-Baihaqi, Abu Bakar Ahmad, Manaqib Asy-Syafi’i

Ar-Razi, Fakhruddin, Manaqib Asy-Syafi’i

As-Subki, Tajuddin Abu Nasr Abdul Wahab, Thabaqat Asy-Syafi’iyah Al-Kubra

Muhammad Miqdadul Anam/Mahasantri Ma’had Aly An-Nur II Malang

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.