MENGENAL DOA SAPU JAGAT DALAM KACAMATA USHUL FIKIH

MENGENAL DOA SAPU JAGAT DALAM KACAMATA USHUL FIKIH

Dalam studi Ushul Fikih, terdapat pembahasan mengenai Amm (umum). Menurut kitab Ghayatul Wushul karangan Imam Zakariya Al-Anshori, Amm adalah sebuah lafaz yang mencakup seluruh individu yang patut baginya dalam satu hentakan. Sifatnya mencakup semua tanpa adanya batasan.).

(العام لفظ يستغرق الصالح له) أي يتناوله دفعة خرج به ما ليس كذلك كالنكرة في الاثبات مفردة أو مثناة أو مجموعة (بلا حصر).

(Lafadz Amm adalah sebuah lafadz yang menghabiskan (mencakup) individu yang patut baginya) dalam artian mencakup seluruh individu dalam satu hentakan. Dikecualikan darinya lafadz yang tidak demikian, seperti lafadz nakirah pada kalam itsbat baik dalam bentuk mufrad, tatsniyah ataupun jama’ (Tanpa adanya Batasan).

Contoh nyata dapat kita lihat dalam Al-Qur’an surat Ali Imran ayat 185:

‌كُلُّ ‌نَفۡسٖ ذَآئِقَةُ ٱلۡمَوۡتِۗ [آل عمران: 185] 

Artinya: Semua yang bernyawa akan merasakan sebuah kematian.

Penggunaan kata “Kullu” (setiap/semua) dalam ayat di atas menunjukkan makna umum tanpa terkecuali; tidak ada satu pun makhluk bernyawa yang terlepas dari kematian.

Kegelisahan memicu seorang santri yang baru belajar ushul fikih untuk bertanya kepada seorang Kyai Kondang di Timur mengapa ada doa yang disebut “Sapu Jagat” jika secara harfiah ia bersifat Khash (khusus)?. Ia bertanya, “Kyai, mengapa pada doa Al-Baqarah ayat 201 yang berbunyi:

رَبَّنَآ ءَاتِنَا ‌فِي ‌ٱلدُّنۡيَا ‌حَسَنَةٗ وَفِي ٱلۡأٓخِرَةِ حَسَنَةٗ وَقِنَا عَذَابَ ٱلنَّارِ [البقرة: 102] 

Pada lafadz ‘Hasanah’ tidak menggunakan redaksi lafadz yang Amm, bukankah baik bagi kita untuk meminta sesuatu yang banyak kepada Allah? Bukankah lafadz nakirah pada kalam istbat (Kalimat yang tidak mengandung kata negasi), dalam artian yang kita minta kepada Allah adalah satu kebaikan di dunia dan satu kebaikan di akhirat?”

Kyai tersebut terdiam sejenak. Beliau menyalakan rokoknya, menyeruput kopi perlahan, lalu menjawab dengan tenang.

“Begini, Le… Lafaz ‘Hasanah’ dalam doa tersebut setidaknya mengandung dua makna mendalam,” ujar sang Kyai.

“Pertama, lafaz ‘Hasanah’ tidak dibuat umum (Amm) karena kita sebagai hamba tidak akan sanggup menanggung ‘semua’ bentuk kebaikan di dunia maupun di akhirat. Selain itu, jika menggunakan lafaz yang mencakup segalanya, hal itu akan berbenturan dengan prinsip ‘khairihi wa syarrihi minallah’—bahwa baik dan buruknya takdir itu datang dari Allah. Jika kita memaksakan meminta semua kebaikan (secara mutlak), seolah-olah kita menolak kenyataan bahwa ujian atau keburukan juga merupakan bagian dari ketetapan-Nya. Bukankah keburukan tidak termasuk dalam kategori ‘Hasanah’?”.

Santri itu mengangguk-angguk, mulai memahami. “Lalu Kyai, makna yang kedua apa?”

“Makna kedua,” lanjut Kyai, “adalah ‘Hasanah’ yang tidak diartikan sebagai benda materi seperti mobil, rumah mewah, atau pasangan saleha semata. Melainkan, kita artikan sebagai ‘kemampuan untuk menjalani apa pun dengan indah’.”

Beliau melanjutkan, “Jika diartikan demikian, maka doa tersebut bermakna: ‘Wahai Tuhan kami, karuniakanlah kami kemampuan untuk menjalani kehidupan di dunia dengan indah, menjalani kehidupan di akhirat dengan indah, dan terbebas dari siksa api neraka.’”

Kyai kemudian memberikan sebuah tamsil. “Ingatkah saat Nabi Muhammad SAW hijrah ke Thaif? Beliau dilempari batu oleh kaumnya, namun beliau menanggapi tanpa rasa dendam. Beliau justru berucap: ‘Mereka hanya orang-orang yang tidak tahu.’ Bukankah respons seperti itu sangat indah, Le?”

Pada akhirnya, penggunaan lafaz yang bukan Amm menunjukkan tata krama (adab) yang sesungguhnya dari seorang hamba kepada Tuhannya. Kita tidak datang kepada Allah dengan nafsu untuk meraup segalanya, melainkan datang dengan kerendahan hati untuk meminta kemampuan menjalani setiap ketetapan-Nya dengan cara yang indah. Lafaz Hasanah mengajarkan kita untuk rida bahwa kebaikan sejati adalah apa yang sesuai dengan pilihan Allah bagi kita, bukan apa yang secara rakus kita inginkan. Dengan demikian, doa Sapu Jagat adalah bentuk kepasrahan total, bahwa satu kebaikan yang diberkati jauh lebih cukup daripada seluruh kebaikan dunia yang justru membinasakan.

Wallahu A’lam Bisshowab,” ujar Kyai mengakhiri jawaban beliau.

Penulis: Nurul Islam, S.Ag., M.Pd.

Editor: M. Abror Suriyanto, S.F.U.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Back To Top