Sabtu, Mei 18
Shadow

Beribadah dengan Ikhlas

Ibadah merupakan sebuah persembahan yang hanya ditunjukkan untuk Tuhan seluruh alam, yakni Allah SWT. Meskipun sebenarnya Allah tidak butuh ibadah kita, tapi karena kita yang butuh maka tetap saja kita harus tetap beribadah. Karena tujuan Allah menciptakan kita sebagai manusia adalah untuk beribadah. Allah berfirman dalam surah Az-Zariyat ayat 56,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.”

Ada banyak ibadah yang bisa kita persembahkan kepada Allah. Salah satunya adalah ibadah puasa yang agak sulit untuk divisualisasikan dalam bentuk gambar. Hal ini dikarenakan puasa adalah ibadah dengan cara menahan diri dari makan dan minum. Meskipun menahan itu kata kerja, tapi pekerjaan itu tidak bisa ditampakkan kepada orang lain.

Puasa adalah salah satu metode untuk membunuh syahwat perut, karena saat kita mengonsumsi makanan secara berlebihan juga akan mempengaruhi semangat kita dalam beribadah. Sering kali ketika perut itu kekenyangan badan terasa malas untuk beraktivitas apalagi hendak salat ke masjid. Selain itu, makan berlebih itu termasuk perilaku tercela yang seharusnya dihindari umat muslim. Bukankan Nabi Muhammad juga telah menganjurkan agar kita berhenti makan sebelum kenyang.

Sebenarnya, untuk menjauhi syahwat perut itu tidak melulu dengan puasa. Karena dengan kita mengurangi porsi makanan atau menahan njajan saat piknik saja sudah termasuk cara menahan diri dari syahwat perut. Bahkan, hal tersebut sudah bisa disebut sebagai ibadah.

Hanya saja dalam praktiknya kita harus berimbang. Artinya, dalam beribadah yang kita lakukan murni karena Allah SWT dan harus kita usahakan bisa dijalani kapan pun dan di mana pun. Ini juga bisa menjadi koreksi bagi kita karena mungkin di antara ibadah kita jalani mungkin banyak punya maksud terselubung. Mulai dari mencari bayaran, mendapatkan jabatan atau karena ingin dianggap jadi orang yang saleh di hadapan orang yang kita cintai. Sehingga, ibadah kita hanya berlaku di keramaian dan sering kali kita tinggalkan saat kita sedang sendiri.

Perilaku semacam ini akan berbahaya bagi hati seseorang, karena perilaku semacam ini bisa disebut dengan riya’. Jika bandingkan dengan bahaya makan berlebihan, bahaya riya’ ini malah lebih besar terhadap diri seorang muslim. Imam Al-Bushiri, yang merupakan teman satu perguruan dengan Ibnu Athaillah pengarang kitab Hikam, menuliskan nasihat indah berupa syair dalam kitab Burdah-nya,

وَاخْشَ الدَّسَائِسَ مِنْ جُوعٍ وَّمِنْ شَبَعِ ۞ فَرُبّ مَخْمَصَةٍ شَرُّ مِنَ التُّخَمِ

“Waspadalah terhadap tipu daya kelaparan dan kekenyangan. Begitu banyak kelaparan itu lebih berbahaya daripada kekenyangan.”

Dalam Bait Al-Bushiri seakan ingin menasihati bahwa dalam hidup kita harus seimbang, makan sebelum lapar dan berhenti sebelum kenyang. Di sini orang lapar bisa besar bahayanya, karena dalam rasa lapar orang akan berpotensi muncul rasa riya’. Bahkan Imam Al-Ghazali sampai membuat bab tersendiri dalam kitab monumentalnya Ihya’ Ulum Ad-Din, tentang bahaya riya’ yang muncul dari orang yang meninggalkan syahwat makan,

بيان آفة الرياء المتطرق إلى من ترك أكل الشهوات وقلل الطعام. اعلم أنه يدخل على تارك الشهوات آفتان عظيمتان هما أعظم من أكل الشهوات…

“Penjelasan tentang sifat riya’ yang muncul kepada orang yang meninggalkan makan karena syahwat dan menyedikitkan makanan. Ketahuilah bahwa orang yang berusaha meninggalkan syahwat bisa terjangkit dua bahaya besar, bahkan bahayanya melebihi bahaya makan karena syahwat…”

Maka, kita kembali lagi ke awal, bahwa tujuan awal manusia diciptakan adalah untuk beribadah dan ibadah hanya berhak kita persembahkan kepada Allah SWT. Apakah orang lain perlu tahu ibadah yang kita lakukan dan apa juga tujuan kita ibadah untuk pamer kepada mereka? Bukankan ibadah itu berasal dari lafaz ‘abd yang artinya hamba. Sehingga, pada dasanya kita adalah hamba dan yang menjadi tuan adalah Allah. Maka, tak perlu kita beribadah dengan tujuan selain untuk mencari rida Allah.

Reo.Ahnan Rifani
Latest posts by Reo.Ahnan Rifani (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.