إِنَّا سَخَّرْنَا الْجِبَالَ مَعَهُ يُسَبِّحْنَ بِالْعَشِيِّ وَالْإِشْرَاقِ
“Sesungguhnya Kami menundukkan gunung-gunung untuk bertasbih bersama dia (Daud) di waktu petang dan pagi”. (QS. Shod: 18)
فِي بُيُوتٍ أَذِنَ اللَّهُ أَنْ تُرْفَعَ وَيُذْكَرَ فِيهَا اسْمُهُ يُسَبِّحُ لَهُ فِيهَا بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ
“Bertasbih kepada Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut-Nya, di sana bertasbih pada waktu pagi dan waktu petang”. (QS. An-nur: 36)
Tafaqquh.com- Shalat Dhuha adalah shalat yang dilakukan pada waktu dhuha. Waktu dhuha adalah waktu ketika mulai naik kurang lebih tujuh hastah sejak terbitnya matahari (kira-kira pukul tujuh pagi) hingga dzuhur, Imam Nawawi dalam Minhaj At-thalibin mengatakan:
“Termasuk shalat sunnah yang tidak dianjurkam berjamaah adalah shalat dhuha, jumlah raka’at minimal 2 raka’at dan maksimal 12 raka’at, dan dilakukan dalam satuan raka’at sekali semalam”.
Diperjelas oleh al-Qulyubi bahwa shalat dhuha adalah shalat Awwabin atau shalat Isyroq sesuai dengan qaul mu’tamad dari guru beliau Imam Ramli dan Imam az-Ziyadi. Lain halnya dengan pendapat al-Ghazali yang mengatakan Dhuha bukanlah shalat isyroq. Menurut beliau shalat isyroq adalah shalat dua raka’at yang dilakukan pada saat terbitnya matahari.
Pendapat qaul mu’tamad mengambil istimbat dari surat Shood ayat 18. Pada ayat ini ada bahasa يُسَبِّحْنَ بِالْعَشِيِّ وَالْإِشْرَاقِ (bertasbih bersama dia (Daud) di waktu petang dan pagi) yang dalam beberapa riwayat ditegaskan, maksud dari tasbih di waktu pagi adalah shlat dhuha. Di antara riwayat-riwayat itu, dapat kita lihat dalam tafsir Bahrul Ulum li imam Abu Lais As-Samarkandi sebagai berikut:
وروى طاوس أن ابن عباس قال لأصحابه: هل تجدون صلاة الضحى في القرآن؟ قالوا: لا. قال: بلى. قوله: يُسَبِّحْنَ بِالْعَشِيِّ وَالْإِشْرَاقِ كانت صلاة الضحى يصليها داود عليه وسلم.
“Diriwayatkan Thawus, bahwa sesungguhnya Ibnu Abbas berkata kepada para sahabat: “Apakah kalian semua menemukan shalat dhuha dalam al-Qur’an?” Mereka berkata: “Tidak.” Ibnu Abbas berkata: firman يُسَبِّحْنَ بِالْعَشِيِّ وَالْإِشْرَاقِ adalah shalat dhuha yang Nabi daud as melakukannya”.
Masih banyak lagi riwayat-riwayat yang menjelaskan tentang hal in, secara terperinci dapat dilihat dalam tafsir Darul Al-Mansyur li imam Jalaluddin as-Suyuthi, juz 8 hal-278. Namun riwayat-riwayat itu pada ujungnya juga sama, yaitu berakhir pada sahabat Ibnu Abbas.
Sama seperti surat Shood adalah surat an-Nur 36, ayat ini juga menjelaskan shalat dhuha. Ditegaskan dalam tafsir as-Sam’ani, maksud dari يُسَبِّحُ لَهُ فِيْهَا بِالْغُدُوِّ (bertasbih pada waktu pagi), adalah shalat dhuha, sedangkan untuk وَالْآصَالِ (waktu petang), menurut Ibnu Saib adalah shalat Dzuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya, sedangkan menurut pendapat Sulaiman ad-Damasyqi hanyalah shalat Ashar dan tidak yang lain.
Dari pemaparan sekaligus beberapa referensi di atas kita dapat menyimpulkan bahwa hujjah dari masyru’iyah shalat Dhuha adalah surat Shood 18 dan an-Nur 36, yang pastinya diperkuat dengan banyak hadits, diantaranya adalah:
Hadits pertama, diriwayatkan dari ‘Abu Dzar Ra, Rasulullah SAW bersabda:
يسبح علي كل سلامي من أحدكم صدقة. فكل تسبيحة صدقة. وكل تحميدة صدقة. وكل تهليلة صدقة. وكل تكبرة صدقة. وأمر بالمعروف صدقة. ونهي عن المنكر صدقة. ويجزئ, من ذلك, ركعتان يركعهما من الضحى
“Hendaknya di antara kalian bersedekah untuk setiap ruas tulang badannya. Maka setiap bacaan tasbih adalah sedekah, setiap bacaan tahmid adalah sedekah, setiap bacaan tahlil adalah sedekah, setiap bacaan takbir adalah sedekah melakukan ma’ruf adalah sedekah dan mencegah kemungkaran adalah sedekah. Dan itu semua sudah tercukupi dengan dua raka’at shalat Dhuha.” (HR. Muslim, al-Baihaqi, Ibnu Khuzaimah)
Hadits kedua, dari Buraidah Ra, Rasulullah SAW bersabda:
في الإنسان ستون وثلاث مائة مفصل عليه أن يتصدق عن كل مفصل منه بصدقة قالوا ومن يطيق ذلك يا رسول الله قال النخاعة تراها في المسجد فتدفنها او الشيء تنحيه عن الطريق فإن لم تجد فركعتا الضحى
“Di tubuh manusia terhadap 360 tulang. Ia diharuskan bersedekah untuk tiap ruas tulang itu. “Para sahabat bertanya: “Siapa yang dapat melakukan itu ya Rasulullah?” Beliau menjawab: “Dahak yang ada di masjid lalu ditutupnya dengan tanah, atau menyingkirkan gangguan dari jalan, atau sekalipun tidak mampu maka shalatlah dua raka’at pada waktu dhuha.” (HR. Ibnu Hibban, juga diriwayatkan oleh Abu Daud dan Ahmad)
Imam asy-Syaukani menjelaskan tentang dua hadits ini:
والحديثان يدلان علي عظم فضل الضحى وأكبر موقعها وتأكد مشروعيتها وأن ركعتيها تجزيان عن ثلاثمائة وسنين صدقة وما كان كذلك فهو حقيق بالمواظبة والمداومة.
“Dua hadits ini menunjukkan keutamaan shalat dhuha yang begitu besar, betapa agung kedudukannya, dan betapa keras pensyari’atannya. Dua raka’at Dhuha dapat menymai 360 kali sedekah. Karena hendak di lakukan terus-menerus.”
Hadits ketiga, dari Abu Huraira Ra, dia berkata:
أَوْصَانِي خَلِيْلِي بِثَلَاثٍ لَا أَدَعُهُنَّ حَتَّى أَمُوْتُ صَوْمِ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَصَلَاةِ الضُّحَى وَنَوْمِ عَلَي وِثْرٍ
“Kekasihku telah mewasiatkan aku tiga hal supaya aku jangan tinggalkan sampai mati: 1. Puasa tiga hari setiap bulan, 2. Shalat dhuha, 3. Shalat witir sebelum tidur.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Daud, Ad Darimi)
Hadits ini jelas menyebutkan shalat dhuha sebagai sunnah yang mesti dijaga dan jangan sampai ditinggalkan hingga wafat. Dan kesunnahannya disertakan dengan shalat witir dan puasa ayyamul bidh. Imam Bukhari memasukkan hadits ini dalam shahihnya, pada kitab Abwab ath-Tathawu’ (Bab macam-macam Shalat Tathawu’/sunnah), pada Bab Shalatudh Dhuha fil-Handhar (Sahalat dhuha ketika mukim). Tema yang dibuat oleh Imam Bukhari ini sekaligus bantahan bagi pihak yang mengatakan bahwa Nabi Saw hanya sekali melaksankan shlat dhuha, yakni ketika pulang dari safar (perjalanan jauh), yang dengan ini mereka berpendapat tidak ada shalat dhuha kecuali karena ada sebab, diantaranya safar.
Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan, bahwa Hadits ini merupakan dalil sunnahnya shalat dhuha, lalu beliau menambahkan:
وعدم مواظبة النبي صلى الله عليه وسلم علي فعلها لا ينا في استحبابها لأنه حاصل بدلالة القول, وليس من شرط الحكم أن تتضافر عليه أدلة القول والفعل, لكن ما واظب النبي صلى الله عليه وسلم علي فعله مرجح علي ما لم يواظب عليه
“Nabi Saw tidak merutinkan shalat dhuha, tetapi tidak berarti menghilangkan kesunnahan shalat dhuha tersebut, sebab kesimpulan seda bisa di ambil dari ucapannya ini. Hukum tidak disyaratkan mesti terjadinya jalinan antara ucapan dan perbuatan, tetapi memang perbuatan yang Nabi Saw rutinkan, Dia lebih kuat anjurannya dari yang tidak beliau rutinkan”
Wallahu A’lam Bis Showab
- TINGKATAN NAFSU MANUSIA - Mei 7, 2019
- NAFSUMU MUSUHMU - Mei 6, 2019
- DOA UNTUK ANJING - Mei 5, 2019