Sabtu, Mei 18
Shadow

Mengusapkan Tangan ke Wajah Setelah Doa Qunut?

(Moh. Mansur/Mutakharrij Ma’had Aly An-Nur II)

Qunut secara bahasa adalah pujian dan doa. Sedangkan secara syara’ (istilah fikih) adalah ucapan tertentu yang mengandung doa atau pujian. Sehingga, doa qunut tidaklah harus selalu berupa doa yang biasanya kita gunakan, bahkan qunut menggunakan ayat Al-Qur’an yang mengandung doa hukumya dikatakan cukup–boleh.

Hukum Membaca Qunut

Qunut termasuk sunah ab’ad shalat, artinya ketika sengaja ditinggalkan atau lupa mengerjakannya, sunah melakukan sujud sahwi sebelum salam. Qunut hanya disunahkan pada shalat Subuh dan rakaat terakhir shalat witir pada paruh kedua bulan Ramadan.

Kesunahan ini berdasarkan hadis yang tertera dalam kitab Adzkar karangan Imam Nawawi,

اعلم أن القنوت في صلاة الصبح سنة للحديث الصحيح فيه عن  أنس رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم لم يزل يقنت في الصبح حتى فارق الدنيا. رواه الحاكم أبو عبد الله في كتاب الأربعين وقال حديث صحيح

“Qunut shalat Subuh disunahkan berdasarkan hadis sahih dari Anas (bahwa Rasulullah SAW selalu qunut sampai beliau meninggal). hadis riwayat Hakim Abu Abdullah dalam kitab Arba’in. Ia mengatakan, itu hadis sahih.”

Sedangkan pada shalat Witir berdasarkan riwayat  Hasan bin Ali sebagai berikut,

عن الحسنِ بن عليٍّ رَضِيَ اللهُ عنهما، أنَّه قال( عَلَّمني رسولُ اللهِ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم كلماتٍ أقولهنَّ في قُنوتِ الوِترِ: اللهمَّ اهْدِني فيمَن هدَيْت، وعافِني فيمَن عافَيْت، وتولَّني فيمَن تولَّيْت، وباركْ لي فيما أَعطَيْت، وقِني شَرَّ ما قَضَيْت؛ فإنَّك تَقْضِي ولا يُقْضَى عليك، وإنَّه لا يَذلُّ مَن والَيْت، تباركتَ ربَّنا وتَعالَيْت)

“Dari hasan bin Ali RA Beliau berkata, ‘Rasulullah mengajarkan kepadaku beberapa kalimat yang dibaca pada shalat witir yakni:
اللهمَّ اهْدِني فيمَن هدَيْت، وعافِني فيمَن عافَيْت، وتولَّني فيمَن تولَّيْت، وباركْ لي فيما أَعطَيْت، وقِني شَرَّ ما قَضَيْت؛ فإنَّك تَقْضِي ولا يُقْضَى عليك، وإنَّه لا يَذلُّ مَن والَيْت، تباركتَ ربَّنا وتَعالَيْت

Dua hadis di atas menegaskan bahwa qunut hukumnya sunah dan hanya berlaku pada shalat Subuh dan Witir, kecuali Qunut Nazilah.

Pendapat di atas berbeda dengan mazhab lain yang menyatakan bahwa qunut bukanlah sunah shalat, bahkan sebagian dari para ormas di luar aswaja mengklaim hal tersebut adalah bid’ah yang tidak pernah diajarkan nabi. Ada juga yang berpandangan bahwa qunut juga disunahkan di seluruh shalat fardu. Ulama lain berpendapat disunahkan pada shalat Subuh, Duhur, dan Isya saja. (Syarah Yaqut Nafis hal. 148 cet. Darul Minhaj).

Hikmah qunut hanya ada pada shalat Subuh sebagaimana yang diterangkan Imam ibnu Qasim dan Barmawi. beliau mengatakan doa Qunut berada saat shalat Subuh tak lain karena shalat Subuh itu mulia. Dengan bukti azan Subuh dua kali, sebelum dan sesudah masuk waktu. Kemudian disunahkan baca tastwib (ash-Shalalatu khairu minannaum) saat adzan. Dan bukti terakhir shalat Subuh adalah shalat fardu yang rakaatnya paling sedikit.

Hukum Mengusap Wajah Usai Doa Qunut

Lalu kemusykilan yang beredar di masyarakat mengenai status hukum mengusap tangan ke wajah setelah qunut, apakah sunah atau tidak?

Dalam hal ini ulama masih bersilang pendapat. Menurut pendapat yang sahih hukumnya tidak sunah. Sebab menurut Imam Baihaqi tidak ada riwayat hadis dan jejak langkah yang dicontohkan ulama salaf, meski ada riwayat sunah mengusap wajah setelah doa di luar shalat. Dengan begitu, seyogyanya tidak perlu melakukan hal demikian.

Sedangkan sebagian ulama menetapkan hukum sunah sebab bagaimanapun qunut juga bagian dari doa pada umumnya. Tidak perlu membedakan antara doa di dalam shalat (qunut) atau diluar shalat (doa pada umumnya).

Melihat dua pendapat di atas bukan sebagai senjata menyalahkan satu sama lain di antara kita. Justru hal tersebut merupakan tindakan kita dalam menyikapi perbedaan pendapat di antara ulama. Jika dinisbatkan pada diri kita, maka sebaiknya tidak melakukannya. Namun, jika kita nisbatkan kepada orang lain, mungkin mereka berpegang teguh terhadap pendapat yang sunah dan sikap kita tidak menyalahkannya.

Referensi; Kitab Mughni al-Muhtaj juz. 1

( وَ ) الصَّحِيحُ أَنَّهُ ( لَا يَمْسَحُ ) بِهِمَا ( وَجْهَهُ ) أَيْ لَا يُسَنُّ لَهُ ذَلِكَ لِعَدَمِ وُرُودِهِ كَمَا قَالَهُ الْبَيْهَقِيُّ ، وَالثَّانِي يُسَنُّ لِخَبَرِ { فَامْسَحُوا بِهِمَا وُجُوهَكُمْ } وَرُدَّ بِأَنَّ طُرُقَهُ وَاهِيَةٌ ، وَظَاهِرُ كَلَامِ الْمُصَنِّفِ عَدَمُ جَرَيَانِ الْخِلَافِ لَوْلَا التَّقْدِيرُ الْمَذْكُورُ ، وَعِبَارَةُ الْمُحَرَّرِ ظَاهِرَةٌ فِي الْخِلَافِ فِيهِ ، فَلَوْ قَالَ : لَا مَسَحَ وَجْهَهُ لَكَانَ أَخْصَرَ وَأَفَادَ الْخِلَافُ مِنْ غَيْرِ تَقْدِيرٍ .وَأَمَّا مَسْحُ غَيْرِ الْوَجْهِ كَالصَّدْرِ فَلَا يُسَنُّ مَسْحُهُ قَطْعًا بَلْ نَصَّ جَمَاعَةٌ عَلَى كَرَاهَتِه

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.